Data
Desa
Aspek
Geografis dan Data Administrasi Desa
Desa
Padaasih memiliki luas wilayah secara keseluruhan adalah 176,800 Ha dan merupakan desa yang strategis
sebagai pintu gerbang masuk wilayah Kecamatan Pasirwangi, dengan jarak sekitar
3,5 km dari Kecamatan Pasirwangi, 12 km dari Pusat pemerintahan Kabupaten
Garut, 73,5 km dari Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, sedangkan dari
Pusat Pemerintahan Republik Indonesia (Istana Merdeka) memiliki jarak sekitar
233 km.
Secara
administratif, sampai tahun 2014, Desa
Padaasih terdiri dari 2 Dusun, 9 RW dan 30 RT dan merupakan salah satu
dari Desa Wilayah Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut dengan batas wilayah :
Sebelah
utara : Desa Sirnasari
Kec.Samarang
Sebelah
Selatan : Desa Padamukti
Kec.Pasirwangi
Sebelah
Barat : Desa Padasuka
Kec.Pasirwangi
Sebelah
Timur : Desa Banjarsari
Kec.Bayongbong
DATA DUSUN, RT DAN RW DESA PADAASIH
|
No
|
No
RW dan RT
|
Nama
Kampung
|
Dusun
|
|
1
|
RW
001
|
Kp.
Saripulo
|
Dusun I
|
|
2
|
RW
001 RT 001
|
Kp.
Saripulo
|
Dusun
I
|
|
3
|
RW
001 RT 002
|
Kp.
Saripulo
|
Dusun I
|
|
4
|
RW
002
|
Kp.
Cikaso
|
Dusun I
|
|
5
|
RW
002 RT 001
|
Kp.
Cikaso
|
Dusun I
|
|
6
|
RW
002 RT 002
|
Kp.
Cikaso
|
Dusun I
|
|
7
|
RW
003
|
Kp.
Bakom
|
Dusun I
|
|
8
|
RW
003 RT 001
|
Kp.
Bakom
|
Dusun I
|
|
9
|
RW
003 RT 002
|
Kp.
Bakom
|
Dusun I
|
|
10
|
RW
003 RT 003
|
Kp.
Bakom
|
Dusun I
|
|
11
|
RW
004
|
Kp.
Legokasih
|
Dusun I
|
|
12
|
RW
004 RT 001
|
Kp.
Cipaku
|
Dusun I
|
|
13
|
RW
004 RT 002
|
Kp.
Palabuhan
|
Dusun I
|
|
14
|
RW
004 RT 003
|
Kp.
Legokasih
|
Dusun I
|
|
15
|
RW
004 RT 004
|
Kp.
Palabuhan
|
Dusun I
|
|
16
|
RW
005
|
Kp.
Malati
|
Dusun I
|
|
17
|
RW
005 RT 001
|
Kp.
Malati
|
Dusun I
|
|
18
|
RW
005 RT 002
|
Kp.
Malati
|
Dusun I
|
|
19
|
RW
005 RT 003
|
Kp.
Malati
|
Dusun I
|
|
20
|
RW
005 RT 004
|
Kp.
Malati
|
Dusun I
|
|
21
|
RW
006
|
Kp.
Malati Kaler
|
Dusun II
|
|
22
|
RW
006 RT 001
|
Kp.
Nangoh
|
Dusun II
|
|
23
|
RW
006 RT 002
|
Kp.
Malati Kaler
|
Dusun II
|
|
24
|
RW
006 RT 003
|
Kp.
Malati Kaler
|
Dusun II
|
|
25
|
RW
006 RT 004
|
Kp.
Malati Kaler
|
Dusun II
|
|
26
|
RW
006 RT 005
|
Kp.
Malati Kaler
|
Dusun II
|
|
27
|
RW
007
|
Kp.
Beulah Nangka
|
Dusun II
|
|
28
|
RW
007 RT 001
|
Kp.
Beulah Nangka
|
Dusun II
|
|
29
|
RW
007 RT 002
|
Kp.
Beulah Nangka
|
Dusun II
|
|
30
|
RW
007 RT 003
|
Kp.
Beulah Nangka
|
Dusun II
|
|
31
|
RW
007 RT 004
|
Kp.
Babakan Neglasari
|
Dusun II
|
|
32
|
RW
008
|
Kp.
Pasir Pogor
|
Dusun II
|
|
33
|
RW
008 RT 001
|
Kp.
Bakom Kaler
|
Dusun II
|
|
34
|
RW
008 RT 002
|
Kp.
Pasir Pogor
|
Dusun II
|
|
35
|
RW
008 RT 003
|
Kp.
Pasir Pogor
|
Dusun II
|
|
36
|
RW
008 RT 004
|
Kp.
Pojok
|
Dusun II
|
|
37
|
RW
009
|
Kp.
Garogol
|
Dusun II
|
|
38
|
RW
009 RT 001
|
Kp.
Garogol
|
Dusun II
|
|
39
|
RW
009 RT 002
|
Kp.
Kempol
|
Dusun II
|
Aspek
Sumber Daya
1.
Daftar Sumber Daya Alam
a.
Topografi
Karakteristik
topografi Desa Padaasih secara umum merupakan daerah dataran tinggi dengan
kondisi alam berbukit-bukit, dan berada pada ketinggian 1.500 – 2.000 mdpl
serta mempunyai kemiringan lereng.
b.
Geologi
Kondisi geologi
desa padaasih, secara fisiografi termasuk dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa
Barat dan Zona Bandung dengan bentang alam satuan morfologi yaitu satuan
morfologi perbukitan berelief halus dan
satuan morfologi pedataran. Stratigrafi daerah tersusun oleh batuan sedimen dan
batuan terobosan dengan struktur geologi adalah lipatan, sesar dan kekar.
Dilihat dari jenis tanahnya secara garis besar meliputi jenis tanah asosiasi
andosol, asosiasi litosol, asosiasi mediteran, dimana jenis tanah tersebut memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat
menjadi suatu potensi.
Desa Padaasih
dengan memiliki iklim tropis, curah hujan yang cukup tinggi, hari hujan yang
banyak dan lahan yang subur serta ditunjang dengan terdapatnya 2 aliran
sungai ke timur yaitu aliran sungan
Cibodas dan aliran Sungan Cikamiri yang menyebabkan sebagian besar dari luas
wilayahnya dipergunakan untuk lahan pertanian.
Akibat pengaruh
adanya daerah pegunungan dan daerah aliran sungai maka tingkat kesuburan tanah
di desa padaasih bervariasi. Secara umum jenis tanahnya terdiri dari tanah
aluvial yang merupakan hasil sedimentasi tanah akibat erosi di bagian hulu.
Jenis tanah podsolik merah kekuning-kuningan, dan jenis tanah andosol.
c.
Hidrologi
Kondisi
hidrologi berdasarkan arah alirannya, sungai-sungai di desa padaasih dibagi
menjadi dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu Daerah aliran utara merupakan DAS
Cikamiri sepanjang + 1 km sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS
Cibodas sepanjang + 1,2 km. Desa Padaasih tidak mempunyai sumber mata
air tetapi mempunyai saluran air bersih yang bersumber dari sumber mata air Bangkuong
Desa Sirnajaya dan PDAM yang bersumber dari mata air Cimanganten Desa Padamulya
sehingga sebagian besar penduduk desa padaasih tidak terlalu kesulitan untuk
mendapatkan air bersih. Selain mata air tersebut warga desa padaasih banyak
menggunakan air bersih dari pembuatan sumur yang tingginya paling tinggi 20 m.
d.
Klimatologi
Secara umum
iklim di desa padaasih dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah
(humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi
iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di desa padaasih
dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu : pola sirkulasi angin musiman
(monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di
bagian tengah Jawa Barat dan elevasi topografi di Kabupaten Bandung. Curah
hujan rata-rata harian di sekitar Garut berkisar antara 13,6 mm/hari - 27,7
mm/hari dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di desa
padaasih karena merupakan daerah pegunungan mencapai 3.500-4.000 mm/hari.
Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24ºC - 27ºC. Besaran angka penguap
keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1.572
mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang
membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian baratLaut Jawa. Pada
musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah
Australia yang terletak di tenggara.
e.
Wilayah Rawan Bencana
Kondisi desa
padaasih yang mempunyai karateristik pegunungan dan berbukit-bukit, memiliki
curah hujan yang tinggi serta berada pada jalur gempa tektonik, dan rawan
bencana, diantaranya abrasi dan tanah longsor serta rawan banjir yang dekat
dengan aliran sungan Cibodas terdapat di wilayah RW 04 yaitu Kp. Palabuhan dan
Cipaku. Sementara itu di ketika musim kemarau sebagian RW khususnya RW 06 Kp.
Malati Kaler sering mengalami kekurangan air bersih.
f.
Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan
di desa padaasih sampai tahun 2014 sebagian besar merupakan lahan sawah
mencapai 97,400 Ha yang terdiri dari
sawah irigasi dan sawah tadah hujan, kemudian berupa Tegal/Kebun dengan
luas 48,400 ha, lahan rumah bangunan
seluas 24,16 Ha dan lainnya 6,500 ha yang digunakan untuk Gedung Pendidikan,
perkantoran, Jalan dan lainnya.
2.
Daftar Sumber Daya
Manusia
Jumlah Penduduk sampai
akhir tahun 2014 sebanyak 6137 laki-laki 3095 perempuan dengan jumlah penduduk
terbanyak di RW 008 dan jumlah penduduk paling rendah berada di RW 002.
Penduduk merupakan
objek sasaran pembangunan sekaligus sebagai subjek pelaku pembangunan yang
turut berperan dalam menentukan arah dan keberhasilan pembangunan. Potensi dan
tantangan pembangunan desa turut ditentukan oleh keadaan riil kependudukan dan
sumber daya alam yang dimiliki desa. Oleh karenanya pembangunan desa harus
menempatkan penduduk sebagai titik sentral dari seluruh kebijakan pembangunan
yang dilakukan.
Jumlah penduduk desa
padaasih dilihat dari tingkat kemampuan dan kesejahteraan msyarakat dapat
dilihat dari berbagai aspek, diantaranya :
a.
Pendidikan
Jenjang
pendidikan masyarakat desa padaasih mengalami peningkatan, tahun 2013 jenjang
pendidikan warga kebanyakan hanya tamatan SD, sedangkan tahun 2014 jenjang
pendidikan warga meningkat banyak yang melanjutkan ke tingkat SLTP dan bahkan
banyak pula yang dilanjutkan ke tingkat SLTA sederajat bahkan ada yang
melanjutkan ke perguruan tinggi.
Angka rata-rata
lama sekolah merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 15
tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal. Pencapaian angka rata-rata lama
sekolah selama tahun 2009-2012 mengalami peningkatan 0,03 tahun. Kondisi
pencapaian rata-rata lama sekolah tersebut, secara makro menunjukkan bahwa
rata-rata penduduk dewasa desa baru berpendidikan selevel dengan kelas satu
SMP. Program dan kegiatan di bidang pendidikan yang diarahkan untuk
meningkatkan pendidikan masyarakat hasilnya belum terasa signifikan yang
kemungkinan disebabkan karena program tersebut belum seutuhnya menyentuh
masyarakat terutama penduduk usia 20 tahun ke atas yang masih masuk dalam penghitungan
RLS secara makro.
Gambaran
kualitas SDM penduduk desa padaasih juga dapat dilihat dari persentase penduduk
menurut jenis pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Sampai dengan Tahun 2012
prosentase terbesar penduduk berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, adalah
memiliki izasah/STTB SD/MI/sederajat sebanyak 39,26%. Selama Tahun 2009-2012,
yang paling menonjol adalah adanya peningkatan penduduk yang memiliki
izasah/STTB SLTP/MTs/sederajat, SMU/MA/sederajat serta izasah Perguruan Tinggi
yang cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan tingkat pendidikan terakhir
ini menunjukkan secara tidak langsung terjadinya peningkatan derajat pendidikan
penduduk di desa padaasih.
b.
Kesehatan
Kenaikan angka
kontribusi AHH memberikan gambaran adanya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat di desa padaasih. Hal ini tidak terlepas dari peran kinerja
pemerintah desa antara lain melalui adanya program jamkesmas dari pemerintah.
Peran pemerintah tersebut masih perlu untuk ditingkatkan yaitu untuk mengejar
ketertinggalan dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Selain
itu, dengan adanya pos kesehatan desa, masyarakat dapat mudah memeriksa
kesehatannya langsung ke desa dan di tunjang dengan adanya klinik swasta yang
berada di wilayah desa padaasih tepatnya di kampong saripulo.
Angka
kelangsungan hidup bayi (AKHB) merupakan probabilitas bayi hidup sampai dengan
usia 1 tahun. Angka kelangsungan hidup bayi terkait erat dengan angka kematian
bayi (AKB) yang dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam
kurun waktu setahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama sebagai
gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat pada waktu angka kematian tersebut
dihitung. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi, dan secara garis
besar dari sisi penyebabnya kematian bayi ada dua macam yaitu,kematian endogen
(kematian neo-natal) yaitu kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama
setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan. Sementara itu kematian bayi eksogen atau kematian post
neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai
menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian
dengan pengaruh lingkungan luar.
Selama tahun
2009-2013, Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) meningkat. Apabila ditinjau
dari jumlah kasus bayi meninggal, selama tahun 2009-2013 telah mengalami
penurunan 4 kasus kematian bayi pada tahun 2009 menjadi 1 kasus pada tahun
2013.
Angka usia
harapan hidup merupakan perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi
tidak ada perubahan pola mortalitas
menurut umur. Angka harapan hidup pada suatu umur tertentu adalah rata-rata
tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil
mencapai umur tertentu, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas
yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka harapan hidup saat lahir adalah
rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu
tahun tertentu yang dapat menjadi alat untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan
kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada
khususnya.
Angka Harapan
Hidup (AHH) Kabupaten Garut pada tahun 2009 mencapai 65,10 tahun, artinya
bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2010 diperkirakan akan dapat hidup
sampai 65 tahun. Pada tahun 2013, AHH diproyeksikan mencapai 68,56 tahun,
sehingga bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2014 mempunyai usia harapan
hidup lebih panjang menjadi sekitar 68 tahun lebih. Kondisi peningkatan angka
harapan hidup tersebut dapat menjadi suatu gambaran adanya peningkatan
kehidupan dan kesejahteraan masyarakat desa padaasih selama tahun 2009-2013.
c.
Mata Pencaharian
Panghasilan
warga masyarakat sebagian besar masih mengandalkan hasil pertanian berupa
sayuran dan padi dikarenakan lahan pertanian dan sawah di desa padaasih masih
luas dibandingkan dengan lahan lainnya. Selain itu, mata pencaharian warga
adalah dengan berdagang yaitu berupa warung kelontongan. Kemudian jasa
kontruksi, perbengkelan, buruh tani, PNS dll.
d.
Penduduk
miskin
Pengukuran
kemiskinan secara makro dilakukan BPS melalui estimasi jumlah penduduk yang
hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam hal ini kemiskinan dipandang sebagai
ketidakmampuan penduduk dari sisi pengeluaran konsumsi untuk memenuhi kebutuhan
dasar makanan dan bukan makanan. Kebutuhan dasar makanan (GKM) setara dengan
besaran minimal jumlah rupiah per bulan untuk pemenuhan kebutuhan kalori 2100
kkal per kapita per hari untuk 52 jenis paket komoditi kebutuhan dasar makanan.
Sedangkan kebutuhan dasar bukan makanan (GKNM) setara dengan besaran rupiah per
bulan untuk pemenuhan kebutuhan minimum perumahan, sandang, pendidikan dan
kesehatan yang diwakili oleh 47 jenis di pedesaan. Sehingga, secara teknis
penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per bulan
di bawah garis kemiskinan.
Persentase
penduduk miskin desa padaasih dari hasil pendataan dengan metode Garis Kemiskinan
hasil SUSENAS, diprediksi pada tahun 2013 mengalami penurunan 277 jiwa
dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari semula 392 jiwa. Penurunan jumlah
penduduk miskin tersebut menyebabkan turunnya persentase penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan, yakni dari 24,31% pada tahun 2012 menjadi 17,18% pada
tahun 2013. Penurunan tersebut tidak
terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah Pusat terkait perluasan penciptaan
kesempatan kerja, peningkatan dan perluasan program pro-rakyat, serta
peningkatan efektifitas penanggulangan kemiskinan melalui tiga klaster program
penanggulangan kemiskinan.
Secara mikro,
pemetaan sebaran penduduk miskin menurut desa dapat digambarkan melalui rumah
tangga sasaran hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan
BPS pada tahun 2011, sebagai data base untuk keperluan intervensi-intervensi
pemerintah yang berhubungan dengan program-program penanggulangan kemiskinan,
seperti Raskin, Jamkesmas, PKH dan sebagainya. Persentase rumah tangga sasaran
di desa padaasih pada tahun 2011 relatif tinggi, yakni sebesar 24,31 persen,
atau 392 RTS dari total sebesar 1612
rumah tangga. RW yang memiliki persentase RTS tertinggi di Desa Padaasih adalah
RW 05 yang mencapai 5,89%, atau sebanyak 95 rumah tangga. Sedangkan RW yang
tampak memiliki persentase RTS terkecil adalah RW 02 dengan persentase sebesar
1,30% atau sebanyak 21 rumah tangga. Dari pemetaan penduduk miskin hasil
pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan BPS pada 2011,
menunjukkan :
Ø Terdapat
sebanyak 22 RTS di RW 01
Ø Terdapat
sebanyak 21 RTS di RW 02
Ø Terdapat
sebanyak 32 RTS di RW 03
Ø Terdapat
sebanyak 54 RTS di RW 04
Ø Terdapat
sebanyak 95 RTS di RW 05
Ø Terdapat
sebanyak 60 RTS di RW 06
Ø Terdapat
sebanyak 35 RTS di RW 07
Ø Terdapat
sebanyak 42 RTS di RW 08
Ø
Terdapat sebanyak 31
RTS di RW 09
Secara
umum peran pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan dan pengurangan
kemiskinan lebih dititikberatkan pada upaya untuk memfasilitasi dan menumbuhkan
iklim yang mendukung tewujudnya kemandirian masyarakat, mengembangkan mekanisme
yang menjamin terwujudnya komunikasi, koordinasi dan keterpaduan antara
pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan
masyarakat, sertamemfasilitasi keberlanjutan penanggulangan kemiskinan secara
mandiri. Program Nasional yang mengacu pada Pepres nomor 15 tahun 2010 tentang
percepatan penanggulangan kemiskinan, terbagi dalam beberapa kelompok, antara
lain :
Ø Bantuan
atau perlindungan sosial terpadu berbasis keluarga, seperti Program Keluarga
Harapan (PKH), Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (Balsem), Bantuan Beras
Rakyat Miskin (Raskin), BOS, Bea Siswa untuk masyarakat Miskin, Jaminan kesehatan masyarakat nasional
(Jamkesmas), Jamkesda dan Jaminan persalinan (Jampersal);
Ø
Penanggulangan
Kemiskinan berbasis Pemberdayaan Masyarakat yang diimplementasikan pada
beberapa program seperti PNPM Mandiri Perdesaan.
Program
Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai
kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang
terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu
pendidikan dan kesehatan. Tujuan utama dari PKH adalah untuk mengurangi
kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama pada kelompok
masyarakat miskin.
Program
Raskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran dalam
memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Lebih jauh, program
raskin bertujuan untuk membantu kelompok
miskin dan rentan miskin mendapat cukup pangan dan nutrisi karbohidrat tanpa kendala.
Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) Program Raskin tahun 2013
sebanyak 277 KK.
Jamkesmas
(Jaminan Kesehatan Masyarakat ) adalah sebuah program jaminan kesehatan untuk
warga Indonesia yang memberikan perlindungan sosial dibidang kesehatan untuk
menjamin masyarakat miskin dan tidak mampu yang iurannya dibayar oleh
Pemerintah agar kebutuhan dasar kesehatannya yang layak dapat terpenuhi.
Program ini dijalankan oleh Departemen Kesehatan sejak Tahun 2008. Program
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan berdasarkan konsep
asuransi sosial. Program ini diselenggarakan secara nasional dengan tujuan
untuk mewujudkan portabilitas pelayanan sehingga pelayanan rujukan tertinggi
yang disediakan Jamkesmas dapat diakses oleh seluruh peserta dari berbagai
wilayah, serta agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan
kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin.
Sedangkan
Jamkesda adalah program jaminan bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan
yang diberikan Pemerintah Daerah kepada masyarakat. Sasaran Program Jamkesda
adalah seluruh masyarakat di daerah yang belum memiliki jaminan kesehatan
berupa Jamkesmas, ASKES dan asuransi kesehatan lainnya.
PNPM
Mandiri adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang
berbasis pemberdayaan masyarakat. Tujuan umum dari program ini adalah
meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara
mandiri. Komponen Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana stimulan
keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai sebagian
kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan terutama masyarakat miskin.
e.
Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan
merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, karena mencakup
dimensi ekonomi dan sosial. Setiap upaya pembangunan, selalu diarahkan pada
perluasan kesempatan kerja dan berusaha, sehingga penduduk dapat memperoleh
manfaat langsung dari pembangunan. Salah satu sasaran utama pembangunan adalah
terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk
dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang memasuki pasar kerja setiap tahun.
Dalam bidang
ketenagakerjaan, indikator kesempatan kerja (demand for labour) merupakan
hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja yang
menggambarkan ketersediaan pekerjaan/ lapangan kerja untuk diisi oleh para
pencari kerja. Kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan
tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup
bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan
keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian kesempatan
kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. Sementara itu,
angkatan kerja (labour force) didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk
yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan
pekerjaan yang produktif sebagai sumber daya manusia. Pertambahan angkatan
kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja
sehingga dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.
Rasio penduduk
yang bekerja merupakan perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap
jumlah angkatan kerja, dan selama periode tahun 2009-2012 mengalami peningkatan
setiap tahunnya meskipun tidak terlalu signifikan. Sementara pada tahun 2013, rasio penduduk yang bekerja
diproyeksikan kembali dapat meningkat.
Tingkat
pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara banyaknya orang yang mencari
pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, baik yang sudah pernah bekerja maupun
belum pernah bekerja terhadap angkatan
kerja. Selama periode tahun 2009-2012,
jumlah pengangguran usia kerja 15 tahun keatas mengalami penurunan.
Masih relatif
tingginya jumlah pengangguran terbuka tersebut mengindikasikan bahwa angkatan
kerja yang cukup besar di desa padaasih masih belum terserap secara optimal
oleh sektor-sektor produksi, sebagai akibat lapangan pekerjaan yang masih
kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang masih rendah. Oleh karenanya,
upaya peningkatan kualitas SDM bagi penduduk menjadi mutlak terus digiatkan,
baik melalui pendidikan formal maupun informal. Berbagai upaya yang telah
dilakukan diantaranya pemberian pelatihan terhadap pencari kerja untuk meningkatkan
kompetensi tenaga kerja. Perluasan kesempatan kerja masih tetap menjadi
perhatian.
Dilihat dari
lapangan kerja, sektor pertanian merupakan sektor yang menampung paling banyak
menampung tenaga kerja tiap tahunnya walaupun mengalami penurunan.
Dilihat
dari tingkat pendidikan penduduk bekerja, selama periode tahun 2009-2012 paling
banyak berpendidikan setingkat SD kemudian disusul dengan tingkat pendidikan
setingkat SMP. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan dominasi penduduk
bekerja pada sektor pertanian sehingga kebijakan yang berhubungan dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa padaasih, khususnya bidang
ekonomi, perlu terus diarahkan pada program-program yang dapat meningkatkan
kinerja sektor pertanian secara makro diantaranya melalui peningkatan kualitas
SDM penduduk bekerja khususnya yang bekerja pada sektor pertanian, sehingga
dapat meningkatkan nilai tambah dari pengelolaan sektor tersebut.
SUMBER DAYA MANUSIA
|
No
|
Uraian Sumber Daya
Manusia (SDM)
|
Jumlah
|
Satuan
|
|
1
|
Penduduk dan keluarga
|
|
|
|
|
a.Jumlah penduduk
laki-laki
|
3137
|
orang
|
|
|
b. Jumlah penduduk
perempuan
|
3095
|
Orang
|
|
|
c. Jumlah keluarga
|
1614
|
keluarga
|
|
2
|
Sumber penghasilan
utama penduduk
|
|
|
|
|
a. Pertanian,
perikanan, perkebunan
|
712
|
Orang
|
|
|
b. Pertambangan dan
penggalian
|
15
|
Orang
|
|
|
c. Industri pengolahan
(pabrik, kerajinan, dll)
|
32
|
Orang
|
|
|
d. Perdagangan
besar/eceran dan rumah makan
|
127
|
Orang
|
|
|
e. Angkutan,
pergudangan, komunikasi
|
27
|
Orang
|
|
|
f. Jasa
|
54
|
Orang
|
|
|
g. Lainnya (air, gas,
listrik, konstruksi, perbankan, dll)
|
300
|
Orang
|
|
3
|
Tenaga kerja
berdasarkan latar belakang pendidikan
|
|
|
|
|
a. Lulusan S-1 keatas
|
32
|
orang
|
|
|
b. Lulusan SLA
|
274
|
orang
|
|
|
c. Lulusan SMP
|
312
|
orang
|
|
|
d. Lulusan SD
|
725
|
orang
|
|
|
e. Tidak tamat SD/
tidak sekolah
|
126
|
orang
|
3.
Sumber Daya Pembangunan
a.
Infrastruktur Desa
Ø Jaringan
Jalan
Hingga tahun
2014, total panjang jalan di desa padaasih mencapai 6 km, yang terdiri dari
jalan kabupaten sepanjang 1,5 km dan terbentang dari Kp. Saripulo dan Kp.
Malati, Jalan Desa dan jalan lingkungan. Sementara itu, jumlah jembatan di desa
padaasih sebanyak 7 buah.
Ø Jaringan
Irigasi
Irigasi
merupakan usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang yang jenisnya meliputi irgasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air
bawah tanah, irigasi pompa yang berfungsi mendukung produktivitas usaha tani
guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan
kesejahteraan masyarakat.
Pada aspek
infrastruktur jaringan irigasi, pembangunan difokuskan dalam upaya meningkatkan
intensitas tanam padi sawah khususnya pada daerah Irigasi yang menjadi
kewenangan pemerintah dengan jumlah bangunan irigasi sebanyak 2 buah, dan
panjang saluran sekunder 1 Km.
Ø Perumahan
dan Permukiman
Perkembangan
kinerja urusan perumahan dan permukiman selama periode 2010-2014 ditinjau dari
luas permukiman yang tertata relatif stabil mencapai sebesar 13%. Seiring
peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman
masyarakat, jumlah yang harus direhabilitasi rumah tidak layak huni sebanyak 45
unit rumah pada tahun 2015.
Ø Perhubungan
Pelaksanaan
Urusan Perhubungan dititikberatkan untuk menunjang kelancaran roda perekonomian
desa antara lain kegiatan usaha masyarakat dalam mendistribusikan pemasaran hasil produk barang dan jasa yang
diindikasikan pada kelancaran dan keselamatan di jalan melalui pengadaan
perlengkapan jalan berupa rambu lalu linta,. Indikator-indikator keberhasilan
program dan kegiatan bidang perhubungan ditentukan oleh perkembangan
perlengkapan jalan seperti: Rambu Lalu Lintas, Rambu pendahulu petunjuk
jurusan.
Perkembangan jumlah
angkutan umum memberikan pelayanan mobilitas pengguna jasa di sekitar/menuju
pusat kota, trayek Angkutan Pedesaan yang melayani mobilitas penduduk di
pelosok/pedesaan yang menghubungkan pusat kegiatan kecamatan dengan desa-desa
di luar wilayah pusat kota,
Ø Lingkungan
Hidup
Tingkat status
mutu air DAS Cibodas dan Cikamiri adalah cemar. Kondisi tersebut terutama
diakibatkan beban pencemaran dari kegiatan domestik, pertanian, perkebunan,
peternakan, industri dan aktifitas lain yang berada di DAS yang air limbahnya
di buang ke sungai.
b.
Infrastruktur Pendidikan
Sektor
pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun modal sumber
daya manusia (human resources) yang berkualitas sehingga mampu memberikan
kontribusi yang signifikan dalam pembangunan serta memiliki karakter dan budi
pekerti yang luhur. Gambaran umum kondisi desa terkait dengan urusan pendidikan
salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :
Ø Angka
Partisipasi Sekolah (APS)
Angka
Partisipasi Sekolah (APS) merupakan salah satu indikator yang biasa digunakan
untuk mengukur partisipasi pendidikan murid. APS dihitung berdasarkan jumlah
murid kelompok usia pendidikan yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan
dasar. Angka Partisipasi Sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah murid,
tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur sekolah yang mampu
mengimbangi perkembangan jumlah penduduk usia sekolah.
Selama periode
tahun 2009-2013, Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang pendidikan SD/MI
mengalami peningkatan, demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs mengalami
peningkatan.
Ø Rasio
Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah
Keberlangsungan
dan efektivitas proses pendidikan tentunya bergantung kepada sarana yang ada.
Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan
per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan. Rasio ini mengindikasikan kemampuan
untuk menampung semua penduduk usia pendidikan. Selama kurun waktu 2009-2013
rasio ketersediaan sekolah mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan
pertumbuhan penduduk diantisipasi dengan peningkatan jumlah sekolah.
Jumlah Sekolah
yang ada di desa padaasih sebagai berikut :
-
PAUD 4 Unit
-
TK /RA 2 Unit
-
SD/MI 4 Unit
-
SLTP/MTs 2 Unit
-
SLTA/MA/SMK 2 Unit
Ø Rasio
guru/murid
Rasio guru
terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat pendidikan per jumlah
murid berdasarkan tingkat pendidikan. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan
tenaga pengajar juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai
mutu pengajaran.
Selama kurun
waktu tahun 2009-2013 rasio ketersediaan guru di DESA PADAASIH untuk jenjang
pendidikan SD/MI, per jumlah murid mengalami perkembangan Hal ini terjadi
karena perkembangan jumlah murid yang pesat yang belum sebanding dengan
perkembangan ketersediaan guru. Demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs dan
SMA/MA/SMK, rasio ketersediaan guru terhadap murid masih berada dibawah
standar.
Ø Persentase
Kondisi Ruang Kelas Baik
Ketersediaan
ruang kelas yang baik merupakan salah satu indikator dalam rangka meningkatkan
kualitas pendidikan di desa padaasih. Selama periode 2009-2013, ketersediaan
jumlah ruang kelas baik untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami. kemudian
untuk jenjang pendidikan SMP/MTsdan SMA/MA/SMK selama periode 2009-2013 kondisi
ruang kelas baik mengalami peningkatan.
Perkembangan
sarana dan prasarana pendidikan masih dihadapkan pada kendala masih terdapatnya
ruang kelas dalam kondisi rusak, meskipun secara umum selama periode tahun
2009-2013 relatif mengalami penurunan.
c.
Infrastruktur Kesehatan
Gambaran umum
kondisi desa terkait dengan urusan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari
indikator kinerja sebagai berikut :
Ø Rasio
Poskesdes
Poskesdes
merupakan salah satu sarana penunjang kesehatan dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat desa padaasih. Semakin banyak jumlah
ketersediannya, maka semakin memudahkan masyarakat dalam menjangkau pelayanan
kesehatan. Di desa padaasih terdapat satu buah gedung poskesdes.
Ø Rasio
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Per Satuan Balita
Selama periode
tahun 2009-2013, jumlah Posyandu di desa padaasih sebanyak 9 buah. Untuk
menurunkan Strata Pratama menjadi Madya melalui penambahan jumlah Kader dan
juga perlu Pembinaan Tokoh Masyarakat untuk meningkatkan Strata Purnama ke
Mandiri.
Keberadaan
posyandu dibandingkan dengan jumlah balita pada tahun 2013 menunjukkan Rasio
Posyandu terhadap balita adalah 1 : 60, berarti bahwa dalam pelayanannya secara
rata-rata 1 (satu) Posyandu menangani 60 anak. Kondisi tersebut sesuai, dimanai
dealnya 1 (satu) Posyandu melayani 50-100 anak. Namun demikian, masih perlu
adanya peningkatan secara kualitas, dan kegiatan di posyandu harus sudah
terintegrasi dengan institusi lain yang mempunyai sasaran yang sama yaitu
balita, selain dipergunakan untuk pelayanan kesehatan juga dapat dipergunakan
untuk pelayanan lainnya misalnya sektor pendidikan pada saat yang berbeda.
Ø Persentase
Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan
Komplikasi dan
kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada saat
proses persalinan. Persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dapat
meminimalisir jumlah komplikasi/kematian ibu dan bayi. Selama tahun 2009-2013,
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menunjukkan peningkatan.
Dalam
rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan identifikasi, deteksi
dini dan mampu melaksanakan upaya pemecahan masalah kesehatan dan pencegahan/
penanggulangan faktor risiko secara dini, maka dikembangkan kebijakan Desa
Siaga Aktif. Sampai tahun 2013, desa padaasih sudah menjadi desa siaga aktif,
namun masih pada Strata Pratama, artinya Forum Desa sudah terbentuk tapi belum
berjalan optimal. Oleh karenanya, perlu dilakukan revitalisasi kembali terhadap
program kesehatan di setiap desa sehingga terkoordinasi dengan forum desa
siaga.
d.
Infrastruktur dan Kelompok Ekonomi
Ø
Tanaman Pangan dan
Hortikultura
Produksi
Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura masyarakat desa padaasih diantaranya
:
-
Sawi
-
Padi
-
Jagung
-
Kubis
-
Kacang Tanah
-
Cabai Keriting
-
Cabai Rawit
Ø Peternakan
Produksi
Pertanian Peternakan masyarakat desa padaasih diantaranya :
-
Ayam Kampung
-
Ayam Pedaging
-
Ayam Petelur
-
Domba
-
Kerbau
-
Itik
Ø Perikanan
Produksi
Pertanian Perikanan masyarakat desa padaasih diantaranya :
-
Ikan Nila
-
Ikan Mas
-
Ikan Nilem
-
Ikan Lele
Ø Perdagangan
Kegiatan
perdagangan di Desa padaasih ditopang oleh Sarana Perdagangan berupa :
-
Grosir
-
Produksi Ikan Pidang
-
Warung Kelontongan dll
3
Sumber Daya Pembangunan
No
|
Uraian Sumber Daya
Pembangunan
|
Jumlah
|
Satuan
|
|
1
|
Aset prasarana umum
|
|
|
|
|
a. Jalan Desa
|
4.500
|
KM2
|
|
|
b. Jalan Lingkungan
|
7.000
|
KM2
|
|
|
c. Jembatan
|
100
|
KM2
|
|
|
d. Irigasi
|
3
|
Buah
|
|
2
|
Aset Prasarana
pendidikan
|
|
|
|
|
a. Gedung Paud
|
4
|
Buah
|
|
|
b. Gedung TK
|
2
|
Buah
|
|
|
c. Gedung SD
|
4
|
Buah
|
|
|
d. Taman Pendidikan
Alqur'an
|
1
|
Buah
|
|
|
e. SLTP /Sederajat
|
2
|
Buah
|
|
|
f. SLTA / Sederajat
|
2
|
Buah
|
|
3
|
Aset prasarana
kesehatan
|
|
|
|
|
a. Posyandu
|
9
|
Buah
|
|
|
b. Poskesdes
|
1
|
Buah
|
|
|
c. MCK
|
30
|
Buah
|
|
|
d. Sarana Air Bersih
|
5
|
Buah
|
|
4
|
Aset prasarana ekonomi
|
|
|
|
|
a. Glosir
|
2
|
Buah
|
|
|
b. Warung Kelontongan
|
92
|
Buah
|
|
5
|
Kelompok Usaha Ekonomi
Produktif
|
|
|
|
|
a. Jumlah kelompok
usaha
|
5
|
Kelompok
|
|
6
|
Kelompok Tani
|
4
|
Kelompok
|
1.
Daftar Sumber Daya
Sosial Budaya
Pembangunan seni dan
budaya ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan kebudayaan
daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di
tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya
global. Untuk itu, upaya peningkatan jati diri
masyarakat berupa solidaritas
sosial, kekeluargaan, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa perlu terus
ditingkatkan untuk mengantisipasi memudarnya budaya berperilaku positif seperti
kerja keras, gotong royong, kebersamaan dan kemandirian dengan menggali
kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. Hal itu dijunjukkan dengan adanya
sarana keagaaman berupa mesjid, madrasah dan pesantren dalm upaya peningkatan
jati diri masyarakat setempat.
a.
Sarana Pendidikan agama
Karakteristik
masyarakat desa padaasih yang religius menjadikan kualitas kehidupan beragama
di desa padaasih terus mengalami peningkatan, antara lain ditandai dengan
semakin bertambahnya penyediaan sarana dan fasilitas keagamaan, sarana pendidikan keagamaan,
meningkatnya peringatan hari-hari besar keagamaan dan senantiasa terpeliharanya
kerukunan hidup antar umat beragama, intern umat beragama dan antara umat
beragama dengan pemerintah. Pembangunan keagamaan juga memberikan andil yang
cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain ditandai
dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam membayar Zakat Infak Sodaqoh
(ZIS), hibah/ wakaf dan dana keagamaan lainnya. Walaupun masih belum optimal,
namun hal itu cukup mendukung upaya penanggulangan kemiskinan, pembiayaan yatim
piatu, bantuan bencana alam dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Untuk
meningkatkan pengembangan kehidupan beragama, maka pembangunan kedepan perlu
didukung dengan kebijakan untuk meningkatkan kerukunan dan toleransi kehidupan
beragama dalam bermasyarakat.
b.
Sarana Olahraga
pembangunan dan
pembinaan olahraga disamping optimalisasi olahraga prestasi, dilakukan juga
upaya membangun budaya olahraga dalam masyarakat. Untuk meningkatkan pembinaan
olahraga dimaksud masih diperlukan dukungan sarana dan prasarana olahraga, baik
olahraga masyarakat maupun sarana olahraga terpadu serta pembinaan terhadap
atlet potensial. Selanjutnya pembangunan sarana prasarana olahraga di desa
padaasih sangat variatif, dengan mengupayakan pengadaan sarana olahraga sesuai
dengan hegemoni masyarakat dan sebagai sarana pembangkitan kreativitas
masyarakat dalam bidang ekonomi. Namun sampai saat ini desa padaasih belum
memiliki sarana olahraga terpadu dengan standar nasional. Adapun sarana olah
raga yang ada di desa padaasih adalah :
Ø Lapangan
sepakbola
Ø GOR
Bulu Tangkis
Ø Tenis Meja
c.
Sarana Kesenian
Pembangunan
seni dan budaya selama periode tahun 2009-2014 sudah mengalami kemajuan yang
ditandai dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap pengembangan
kesenian dan kebudayaan daerah yaitu adanya perguruan pencak silat di Kp. Malati
dan Kp. Beulah Nangka, seni nasyid, kasidah dan rebana
Secara
garis besarnya, sumberdaya manusia yang ada di padaasih seperti pada tabel
berikut ini :
Sumber Daya Sosial Budaya
|
No
|
Uraian Sumber Daya
Pembangunan
|
Jumlah
|
Satuan
|
|
A
|
Mesjid
|
21
|
Buah
|
|
B
|
Pondok Pesantren
|
5
|
Buah
|
|
C
|
Madrasah Diniyah
|
17
|
Buah
|
|
D
|
Olah Raga
|
|
|
|
|
Lapangan Sepakbola
|
1
|
Buah
|
|
|
Bulu Tangkis
|
2
|
Buah
|
|
|
Tenis Meja
|
3
|
Buah
|
|
|
Bola Volly
|
1
|
Buah
|
|
|
|
|
|
|
E
|
Seni Budaya
|
|
Buah
|
|
|
Pencaksilat
|
2
|
Buah
|
|
Nasyid
|
4
|
Buah
|
|
Rebana
|
4
|
Buah
|