Flickr

Blogroll

Kategori

Kategori

Popular

Flickr

Selasa, 10 Mei 2016

PRofil

Data Desa
Aspek Geografis dan Data Administrasi Desa
Desa Padaasih memiliki luas wilayah secara keseluruhan adalah 176,800 Ha dan merupakan desa yang strategis sebagai pintu gerbang masuk wilayah Kecamatan Pasirwangi, dengan jarak sekitar 3,5 km dari Kecamatan Pasirwangi, 12 km dari Pusat pemerintahan Kabupaten Garut, 73,5 km dari Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, sedangkan dari Pusat Pemerintahan Republik Indonesia (Istana Merdeka) memiliki jarak sekitar 233 km.
Secara administratif, sampai tahun  2014, Desa Padaasih terdiri dari 2 Dusun, 9 RW dan 30 RT dan merupakan salah satu dari Desa Wilayah Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut dengan batas wilayah :
Sebelah utara               : Desa Sirnasari Kec.Samarang
Sebelah Selatan           : Desa Padamukti Kec.Pasirwangi
Sebelah Barat              : Desa Padasuka Kec.Pasirwangi
Sebelah Timur             : Desa Banjarsari Kec.Bayongbong

DATA DUSUN, RT DAN RW DESA PADAASIH
No
No RW dan RT
Nama Kampung
Dusun
1
RW 001
Kp. Saripulo
Dusun I
2
RW 001 RT 001
Kp. Saripulo
Dusun I
3
RW 001 RT 002
Kp. Saripulo
Dusun I
4
RW 002
Kp. Cikaso
Dusun I
5
RW 002 RT 001
Kp. Cikaso
Dusun I
6
RW 002 RT 002
Kp. Cikaso
Dusun I
7
RW 003
Kp. Bakom
Dusun I
8
RW 003 RT 001
Kp. Bakom
Dusun I
9
RW 003 RT 002
Kp. Bakom
Dusun I
10
RW 003 RT 003
Kp. Bakom
Dusun I
11
RW 004
Kp. Legokasih
Dusun I
12
RW 004 RT 001
Kp. Cipaku
Dusun I
13
RW 004 RT 002
Kp. Palabuhan
Dusun I
14
RW 004 RT 003
Kp. Legokasih
Dusun I
15
RW 004 RT 004
Kp. Palabuhan
Dusun I
16
RW 005
Kp. Malati
Dusun I
17
RW 005 RT 001
Kp. Malati
Dusun I
18
RW 005 RT 002
Kp. Malati
Dusun I
19
RW 005 RT 003
Kp. Malati
Dusun I
20
RW 005 RT 004
Kp. Malati
Dusun I
21
RW 006
Kp. Malati Kaler
Dusun II
22
RW 006 RT 001
Kp. Nangoh
Dusun II
23
RW 006 RT 002
Kp. Malati Kaler
Dusun II
24
RW 006 RT 003
Kp. Malati Kaler
Dusun II
25
RW 006 RT 004
Kp. Malati Kaler
Dusun II
26
RW 006 RT 005
Kp. Malati Kaler
Dusun II
27
RW 007
Kp. Beulah Nangka
Dusun II
28
RW 007 RT 001
Kp. Beulah Nangka
Dusun II
29
RW 007 RT 002
Kp. Beulah Nangka
Dusun II
30
RW 007 RT 003
Kp. Beulah Nangka
Dusun II
31
RW 007 RT 004
Kp. Babakan Neglasari
Dusun II
32
RW 008
Kp. Pasir Pogor
Dusun II
33
RW 008 RT 001
Kp. Bakom Kaler
Dusun II
34
RW 008 RT 002
Kp. Pasir Pogor
Dusun II
35
RW 008 RT 003
Kp. Pasir Pogor
Dusun II
36
RW 008 RT 004
Kp. Pojok
Dusun II
37
RW 009
Kp. Garogol
Dusun II
38
RW 009 RT 001
Kp. Garogol
Dusun II
39
RW 009 RT 002
Kp. Kempol
Dusun II

Aspek Sumber Daya
1.        Daftar Sumber Daya Alam
a.         Topografi
Karakteristik topografi Desa Padaasih secara umum merupakan daerah dataran tinggi dengan kondisi alam berbukit-bukit, dan berada pada ketinggian 1.500 – 2.000 mdpl serta mempunyai kemiringan lereng.
b.        Geologi
Kondisi geologi desa padaasih, secara fisiografi termasuk dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat dan Zona Bandung dengan bentang alam satuan morfologi yaitu satuan morfologi perbukitan berelief halus  dan satuan morfologi pedataran. Stratigrafi daerah tersusun oleh batuan sedimen dan batuan terobosan dengan struktur geologi adalah lipatan, sesar dan kekar. Dilihat dari jenis tanahnya secara garis besar meliputi jenis tanah asosiasi andosol, asosiasi litosol, asosiasi mediteran, dimana jenis tanah  tersebut memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat menjadi suatu potensi.
Desa Padaasih dengan memiliki iklim tropis, curah hujan yang cukup tinggi, hari hujan yang banyak dan lahan yang subur serta ditunjang dengan terdapatnya 2 aliran sungai  ke timur yaitu aliran sungan Cibodas dan aliran Sungan Cikamiri yang menyebabkan sebagian besar dari luas wilayahnya dipergunakan untuk lahan pertanian.
Akibat pengaruh adanya daerah pegunungan dan daerah aliran sungai maka tingkat kesuburan tanah di desa padaasih bervariasi. Secara umum jenis tanahnya terdiri dari tanah aluvial yang merupakan hasil sedimentasi tanah akibat erosi di bagian hulu. Jenis tanah podsolik merah kekuning-kuningan, dan jenis tanah andosol.
c.         Hidrologi
Kondisi hidrologi berdasarkan arah alirannya, sungai-sungai di desa padaasih dibagi menjadi dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu Daerah aliran utara merupakan DAS Cikamiri sepanjang + 1 km sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS Cibodas sepanjang + 1,2 km. Desa Padaasih tidak mempunyai sumber mata air tetapi mempunyai saluran air bersih yang bersumber dari sumber mata air Bangkuong Desa Sirnajaya dan PDAM yang bersumber dari mata air Cimanganten Desa Padamulya sehingga sebagian besar penduduk desa padaasih tidak terlalu kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Selain mata air tersebut warga desa padaasih banyak menggunakan air bersih dari pembuatan sumur yang tingginya paling tinggi 20 m.
d.        Klimatologi
Secara umum iklim di desa padaasih dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di desa padaasih dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu : pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat dan elevasi topografi di Kabupaten Bandung. Curah hujan rata-rata harian di sekitar Garut berkisar antara 13,6 mm/hari - 27,7 mm/hari dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di desa padaasih karena merupakan daerah pegunungan mencapai 3.500-4.000 mm/hari. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24ºC - 27ºC. Besaran angka penguap keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1.572 mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian baratLaut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara.
e.         Wilayah Rawan Bencana
Kondisi desa padaasih yang mempunyai karateristik pegunungan dan berbukit-bukit, memiliki curah hujan yang tinggi serta berada pada jalur gempa tektonik, dan rawan bencana, diantaranya abrasi dan tanah longsor serta rawan banjir yang dekat dengan aliran sungan Cibodas terdapat di wilayah RW 04 yaitu Kp. Palabuhan dan Cipaku. Sementara itu di ketika musim kemarau sebagian RW khususnya RW 06 Kp. Malati Kaler sering mengalami kekurangan air bersih.
f.          Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di desa padaasih sampai tahun 2014 sebagian besar merupakan lahan sawah mencapai  97,400 Ha yang terdiri dari sawah irigasi dan sawah tadah hujan, kemudian berupa Tegal/Kebun dengan luas  48,400 ha, lahan rumah bangunan seluas 24,16 Ha dan lainnya 6,500 ha yang digunakan untuk Gedung Pendidikan, perkantoran, Jalan dan lainnya.

2.        Daftar Sumber Daya Manusia
Jumlah Penduduk sampai akhir tahun 2014 sebanyak 6137 laki-laki 3095 perempuan dengan jumlah penduduk terbanyak di RW 008 dan jumlah penduduk paling rendah berada di RW 002.
Penduduk merupakan objek sasaran pembangunan sekaligus sebagai subjek pelaku pembangunan yang turut berperan dalam menentukan arah dan keberhasilan pembangunan. Potensi dan tantangan pembangunan desa turut ditentukan oleh keadaan riil kependudukan dan sumber daya alam yang dimiliki desa. Oleh karenanya pembangunan desa harus menempatkan penduduk sebagai titik sentral dari seluruh kebijakan pembangunan yang dilakukan.
Jumlah penduduk desa padaasih dilihat dari tingkat kemampuan dan kesejahteraan msyarakat dapat dilihat dari berbagai aspek, diantaranya :
a.         Pendidikan
Jenjang pendidikan masyarakat desa padaasih mengalami peningkatan, tahun 2013 jenjang pendidikan warga kebanyakan hanya tamatan SD, sedangkan tahun 2014 jenjang pendidikan warga meningkat banyak yang melanjutkan ke tingkat SLTP dan bahkan banyak pula yang dilanjutkan ke tingkat SLTA sederajat bahkan ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Angka rata-rata lama sekolah merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal. Pencapaian angka rata-rata lama sekolah selama tahun 2009-2012 mengalami peningkatan 0,03 tahun. Kondisi pencapaian rata-rata lama sekolah tersebut, secara makro menunjukkan bahwa rata-rata penduduk dewasa desa baru berpendidikan selevel dengan kelas satu SMP. Program dan kegiatan di bidang pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan pendidikan masyarakat hasilnya belum terasa signifikan yang kemungkinan disebabkan karena program tersebut belum seutuhnya menyentuh masyarakat terutama penduduk usia 20 tahun ke atas yang masih masuk dalam penghitungan RLS secara makro.
Gambaran kualitas SDM penduduk desa padaasih juga dapat dilihat dari persentase penduduk menurut jenis pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Sampai dengan Tahun 2012 prosentase terbesar penduduk berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, adalah memiliki izasah/STTB SD/MI/sederajat sebanyak 39,26%. Selama Tahun 2009-2012, yang paling menonjol adalah adanya peningkatan penduduk yang memiliki izasah/STTB SLTP/MTs/sederajat, SMU/MA/sederajat serta izasah Perguruan Tinggi yang cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan tingkat pendidikan terakhir ini menunjukkan secara tidak langsung terjadinya peningkatan derajat pendidikan penduduk di desa padaasih.
b.        Kesehatan
Kenaikan angka kontribusi AHH memberikan gambaran adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di desa padaasih. Hal ini tidak terlepas dari peran kinerja pemerintah desa antara lain melalui adanya program jamkesmas dari pemerintah. Peran pemerintah tersebut masih perlu untuk ditingkatkan yaitu untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Selain itu, dengan adanya pos kesehatan desa, masyarakat dapat mudah memeriksa kesehatannya langsung ke desa dan di tunjang dengan adanya klinik swasta yang berada di wilayah desa padaasih tepatnya di kampong saripulo.
Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) merupakan probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka kelangsungan hidup bayi terkait erat dengan angka kematian bayi (AKB) yang dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama sebagai gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat pada waktu angka kematian tersebut dihitung. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi, dan secara garis besar dari sisi penyebabnya kematian bayi ada dua macam yaitu,kematian endogen (kematian neo-natal) yaitu kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Sementara itu kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Selama tahun 2009-2013, Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) meningkat. Apabila ditinjau dari jumlah kasus bayi meninggal, selama tahun 2009-2013 telah mengalami penurunan 4 kasus kematian bayi pada tahun 2009 menjadi 1 kasus pada tahun 2013.
Angka usia harapan hidup merupakan perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada  perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup pada suatu umur tertentu adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur tertentu, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu yang dapat menjadi alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah  dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.
Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Garut pada tahun 2009 mencapai 65,10 tahun, artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2010 diperkirakan akan dapat hidup sampai 65 tahun. Pada tahun 2013, AHH diproyeksikan mencapai 68,56 tahun, sehingga bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2014 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang menjadi sekitar 68 tahun lebih. Kondisi peningkatan angka harapan hidup tersebut dapat menjadi suatu gambaran adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat desa padaasih selama tahun 2009-2013.
c.         Mata Pencaharian
Panghasilan warga masyarakat sebagian besar masih mengandalkan hasil pertanian berupa sayuran dan padi dikarenakan lahan pertanian dan sawah di desa padaasih masih luas dibandingkan dengan lahan lainnya. Selain itu, mata pencaharian warga adalah dengan berdagang yaitu berupa warung kelontongan. Kemudian jasa kontruksi, perbengkelan, buruh tani, PNS dll.
d.        Penduduk miskin
Pengukuran kemiskinan secara makro dilakukan BPS melalui estimasi jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam hal ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan penduduk dari sisi pengeluaran konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Kebutuhan dasar makanan (GKM) setara dengan besaran minimal jumlah rupiah per bulan untuk pemenuhan kebutuhan kalori 2100 kkal per kapita per hari untuk 52 jenis paket komoditi kebutuhan dasar makanan. Sedangkan kebutuhan dasar bukan makanan (GKNM) setara dengan besaran rupiah per bulan untuk pemenuhan kebutuhan minimum perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan yang diwakili oleh 47 jenis di pedesaan. Sehingga, secara teknis penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan.
Persentase penduduk miskin desa padaasih dari hasil pendataan dengan metode Garis Kemiskinan hasil SUSENAS, diprediksi pada tahun 2013 mengalami penurunan 277 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari semula 392 jiwa. Penurunan jumlah penduduk miskin tersebut menyebabkan turunnya persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan, yakni dari 24,31% pada tahun 2012 menjadi 17,18% pada tahun 2013.  Penurunan tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah Pusat terkait perluasan penciptaan kesempatan kerja, peningkatan dan perluasan program pro-rakyat, serta peningkatan efektifitas penanggulangan kemiskinan melalui tiga klaster program penanggulangan kemiskinan.
Secara mikro, pemetaan sebaran penduduk miskin menurut desa dapat digambarkan melalui rumah tangga sasaran hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan BPS pada tahun 2011, sebagai data base untuk keperluan intervensi-intervensi pemerintah yang berhubungan dengan program-program penanggulangan kemiskinan, seperti Raskin, Jamkesmas, PKH dan sebagainya. Persentase rumah tangga sasaran di desa padaasih pada tahun 2011 relatif tinggi, yakni sebesar 24,31 persen, atau 392 RTS dari  total sebesar 1612 rumah tangga. RW yang memiliki persentase RTS tertinggi di Desa Padaasih adalah RW 05 yang mencapai 5,89%, atau sebanyak 95 rumah tangga. Sedangkan RW yang tampak memiliki persentase RTS terkecil adalah RW 02 dengan persentase sebesar 1,30% atau sebanyak 21 rumah tangga. Dari pemetaan penduduk miskin hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan BPS pada 2011, menunjukkan :
Ø  Terdapat sebanyak 22 RTS di RW 01
Ø  Terdapat sebanyak 21 RTS di RW 02
Ø  Terdapat sebanyak 32 RTS di RW 03
Ø  Terdapat sebanyak 54 RTS di RW 04
Ø  Terdapat sebanyak 95 RTS di RW 05
Ø  Terdapat sebanyak 60 RTS di RW 06
Ø  Terdapat sebanyak 35 RTS di RW 07
Ø  Terdapat sebanyak 42 RTS di RW 08
Ø  Terdapat sebanyak 31 RTS di RW 09
Secara umum peran pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan dan pengurangan kemiskinan lebih dititikberatkan pada upaya untuk memfasilitasi dan menumbuhkan iklim yang mendukung tewujudnya kemandirian masyarakat, mengembangkan mekanisme yang menjamin terwujudnya komunikasi, koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan  masyarakat, sertamemfasilitasi keberlanjutan penanggulangan kemiskinan secara mandiri. Program Nasional yang mengacu pada Pepres nomor 15 tahun 2010 tentang percepatan penanggulangan kemiskinan, terbagi dalam beberapa kelompok, antara lain :
Ø  Bantuan atau perlindungan sosial terpadu berbasis keluarga, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (Balsem), Bantuan Beras Rakyat Miskin (Raskin), BOS, Bea Siswa untuk masyarakat Miskin,  Jaminan kesehatan masyarakat nasional (Jamkesmas), Jamkesda dan Jaminan persalinan (Jampersal);
Ø  Penanggulangan Kemiskinan berbasis Pemberdayaan Masyarakat yang diimplementasikan pada beberapa program seperti PNPM Mandiri Perdesaan.
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan. Tujuan utama dari PKH adalah untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama pada kelompok masyarakat miskin.
Program Raskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Lebih jauh, program raskin  bertujuan untuk membantu kelompok miskin dan rentan miskin mendapat cukup pangan dan nutrisi karbohidrat tanpa kendala. Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) Program Raskin tahun 2013 sebanyak 277 KK.
Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat ) adalah sebuah program jaminan kesehatan untuk warga Indonesia yang memberikan perlindungan sosial dibidang kesehatan untuk menjamin masyarakat miskin dan tidak mampu yang iurannya dibayar oleh Pemerintah agar kebutuhan dasar kesehatannya yang layak dapat terpenuhi. Program ini dijalankan oleh Departemen Kesehatan sejak Tahun 2008. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan berdasarkan konsep asuransi sosial. Program ini diselenggarakan secara nasional dengan tujuan untuk mewujudkan portabilitas pelayanan sehingga pelayanan rujukan tertinggi yang disediakan Jamkesmas dapat diakses oleh seluruh peserta dari berbagai wilayah, serta agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin.
Sedangkan Jamkesda adalah program jaminan bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan yang diberikan Pemerintah Daerah kepada masyarakat. Sasaran Program Jamkesda adalah seluruh masyarakat di daerah yang belum memiliki jaminan kesehatan berupa Jamkesmas, ASKES dan asuransi kesehatan lainnya.
PNPM Mandiri adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Tujuan umum dari program ini adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri. Komponen Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana stimulan keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai sebagian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan terutama masyarakat miskin.
e.         Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Setiap upaya pembangunan, selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan berusaha, sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. Salah satu sasaran utama pembangunan adalah terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang memasuki pasar kerja setiap tahun.
Dalam bidang ketenagakerjaan, indikator kesempatan kerja (demand for labour) merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja yang menggambarkan ketersediaan pekerjaan/ lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja. Kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. Sementara itu, angkatan kerja (labour force) didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif sebagai sumber daya manusia. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.
Rasio penduduk yang bekerja merupakan perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja, dan selama periode tahun 2009-2012 mengalami peningkatan setiap tahunnya meskipun tidak terlalu signifikan. Sementara pada  tahun 2013, rasio penduduk yang bekerja diproyeksikan kembali dapat meningkat.
Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara banyaknya orang yang mencari pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, baik yang sudah pernah bekerja maupun belum  pernah bekerja terhadap angkatan kerja. Selama periode tahun 2009-2012,  jumlah pengangguran usia kerja 15 tahun keatas mengalami penurunan.
Masih relatif tingginya jumlah pengangguran terbuka tersebut mengindikasikan bahwa angkatan kerja yang cukup besar di desa padaasih masih belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor produksi, sebagai akibat lapangan pekerjaan yang masih kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang masih rendah. Oleh karenanya, upaya peningkatan kualitas SDM bagi penduduk menjadi mutlak terus digiatkan, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Berbagai upaya yang telah dilakukan diantaranya pemberian pelatihan terhadap pencari kerja untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Perluasan kesempatan kerja masih tetap menjadi perhatian.
Dilihat dari lapangan kerja, sektor pertanian merupakan sektor yang menampung paling banyak menampung tenaga kerja tiap tahunnya walaupun mengalami penurunan.

Dilihat dari tingkat pendidikan penduduk bekerja, selama periode tahun 2009-2012 paling banyak berpendidikan setingkat SD kemudian disusul dengan tingkat pendidikan setingkat SMP. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan dominasi penduduk bekerja pada sektor pertanian sehingga kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa padaasih, khususnya bidang ekonomi, perlu terus diarahkan pada program-program yang dapat meningkatkan kinerja sektor pertanian secara makro diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM penduduk bekerja khususnya yang bekerja pada sektor pertanian, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari pengelolaan sektor tersebut.

SUMBER DAYA MANUSIA
No
Uraian Sumber Daya Manusia (SDM)
Jumlah
Satuan
1
Penduduk dan keluarga

a.Jumlah penduduk laki-laki
3137
orang

b. Jumlah penduduk perempuan
3095
Orang

c. Jumlah keluarga
1614
keluarga
2
Sumber penghasilan utama penduduk

a. Pertanian, perikanan, perkebunan
712
Orang

b. Pertambangan dan penggalian
15
Orang

c. Industri pengolahan (pabrik, kerajinan, dll)
32
Orang

d. Perdagangan besar/eceran dan rumah makan
127
Orang

e. Angkutan, pergudangan, komunikasi
27
Orang

f. Jasa
54
Orang

g. Lainnya (air, gas, listrik, konstruksi, perbankan, dll)
300
Orang
3
Tenaga kerja berdasarkan latar belakang pendidikan

a. Lulusan S-1 keatas
32
orang

b. Lulusan SLA
274
orang

c. Lulusan SMP
312
orang

d. Lulusan SD
725
orang

e. Tidak tamat SD/ tidak sekolah
126
orang

3.        Sumber Daya Pembangunan
a.         Infrastruktur Desa
Ø  Jaringan Jalan
Hingga tahun 2014, total panjang jalan di desa padaasih mencapai 6 km, yang terdiri dari jalan kabupaten sepanjang 1,5 km dan terbentang dari Kp. Saripulo dan Kp. Malati, Jalan Desa dan jalan lingkungan. Sementara itu, jumlah jembatan di desa padaasih sebanyak 7 buah.
Ø  Jaringan Irigasi
Irigasi merupakan usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang yang jenisnya meliputi irgasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa yang berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Pada aspek infrastruktur jaringan irigasi, pembangunan difokuskan dalam upaya meningkatkan intensitas tanam padi sawah khususnya pada daerah Irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah dengan jumlah bangunan irigasi sebanyak 2 buah, dan panjang saluran sekunder 1 Km.
Ø  Perumahan dan Permukiman
Perkembangan kinerja urusan perumahan dan permukiman selama periode 2010-2014 ditinjau dari luas permukiman yang tertata relatif stabil mencapai sebesar 13%. Seiring peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman masyarakat, jumlah yang harus direhabilitasi rumah tidak layak huni sebanyak 45 unit rumah pada tahun 2015.
Ø  Perhubungan
Pelaksanaan Urusan Perhubungan dititikberatkan untuk menunjang kelancaran roda perekonomian desa antara lain kegiatan usaha masyarakat dalam mendistribusikan  pemasaran hasil produk barang dan jasa yang diindikasikan pada kelancaran dan keselamatan di jalan melalui pengadaan perlengkapan jalan berupa rambu lalu linta,. Indikator-indikator keberhasilan program dan kegiatan bidang perhubungan ditentukan oleh perkembangan perlengkapan jalan seperti: Rambu Lalu Lintas, Rambu pendahulu petunjuk jurusan.
Perkembangan jumlah angkutan umum memberikan pelayanan mobilitas pengguna jasa di sekitar/menuju pusat kota, trayek Angkutan Pedesaan yang melayani mobilitas penduduk di pelosok/pedesaan yang menghubungkan pusat kegiatan kecamatan dengan desa-desa di luar wilayah pusat kota,



Ø  Lingkungan Hidup
Tingkat status mutu air DAS Cibodas dan Cikamiri adalah cemar. Kondisi tersebut terutama diakibatkan beban pencemaran dari kegiatan domestik, pertanian, perkebunan, peternakan, industri dan aktifitas lain yang berada di DAS yang air limbahnya di buang ke sungai.

b.        Infrastruktur Pendidikan
Sektor pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun modal sumber daya manusia (human resources) yang berkualitas sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan serta memiliki karakter dan budi pekerti yang luhur. Gambaran umum kondisi desa terkait dengan urusan pendidikan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :
Ø  Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan salah satu indikator yang biasa digunakan untuk mengukur partisipasi pendidikan murid. APS dihitung berdasarkan jumlah murid kelompok usia pendidikan yang masih menempuh pendidikan dasar  per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Angka Partisipasi Sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah murid, tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur sekolah yang mampu mengimbangi perkembangan jumlah penduduk usia sekolah.
Selama periode tahun 2009-2013, Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan, demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs mengalami peningkatan.
Ø  Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah
Keberlangsungan dan efektivitas proses pendidikan tentunya bergantung kepada sarana yang ada. Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan. Selama kurun waktu 2009-2013 rasio ketersediaan sekolah mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan pertumbuhan penduduk diantisipasi dengan peningkatan jumlah sekolah.
Jumlah Sekolah yang ada di desa padaasih sebagai berikut :
-            PAUD 4 Unit
-            TK /RA 2 Unit
-            SD/MI 4 Unit
-            SLTP/MTs 2 Unit
-            SLTA/MA/SMK 2 Unit



Ø  Rasio guru/murid
Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat pendidikan per jumlah murid berdasarkan tingkat pendidikan. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.
Selama kurun waktu tahun 2009-2013 rasio ketersediaan guru di DESA PADAASIH untuk jenjang pendidikan SD/MI, per jumlah murid mengalami perkembangan Hal ini terjadi karena perkembangan jumlah murid yang pesat yang belum sebanding dengan perkembangan ketersediaan guru. Demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK, rasio ketersediaan guru terhadap murid masih berada dibawah standar.
Ø  Persentase Kondisi Ruang Kelas Baik
Ketersediaan ruang kelas yang baik merupakan salah satu indikator dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di desa padaasih. Selama periode 2009-2013, ketersediaan jumlah ruang kelas baik untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami. kemudian untuk jenjang pendidikan SMP/MTsdan SMA/MA/SMK selama periode 2009-2013 kondisi ruang kelas baik mengalami peningkatan.
Perkembangan sarana dan prasarana pendidikan masih dihadapkan pada kendala masih terdapatnya ruang kelas dalam kondisi rusak, meskipun secara umum selama periode tahun 2009-2013 relatif mengalami penurunan.

c.         Infrastruktur Kesehatan
Gambaran umum kondisi desa terkait dengan urusan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :
Ø  Rasio Poskesdes
Poskesdes merupakan salah satu sarana penunjang kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa padaasih. Semakin banyak jumlah ketersediannya, maka semakin memudahkan masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan. Di desa padaasih terdapat satu buah gedung poskesdes.
Ø  Rasio Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Per Satuan Balita
Selama periode tahun 2009-2013, jumlah Posyandu di desa padaasih sebanyak 9 buah. Untuk menurunkan Strata Pratama menjadi Madya melalui penambahan jumlah Kader dan juga perlu Pembinaan Tokoh Masyarakat untuk meningkatkan Strata Purnama ke Mandiri.
Keberadaan posyandu dibandingkan dengan jumlah balita pada tahun 2013 menunjukkan Rasio Posyandu terhadap balita adalah 1 : 60, berarti bahwa dalam pelayanannya secara rata-rata 1 (satu) Posyandu menangani 60 anak. Kondisi tersebut sesuai, dimanai dealnya 1 (satu) Posyandu melayani 50-100 anak. Namun demikian, masih perlu adanya peningkatan secara kualitas, dan kegiatan di posyandu harus sudah terintegrasi dengan institusi lain yang mempunyai sasaran yang sama yaitu balita, selain dipergunakan untuk pelayanan kesehatan juga dapat dipergunakan untuk pelayanan lainnya misalnya sektor pendidikan pada saat yang berbeda.
Ø  Persentase Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan
Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada saat proses persalinan. Persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dapat meminimalisir jumlah komplikasi/kematian ibu dan bayi. Selama tahun 2009-2013, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menunjukkan peningkatan.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan identifikasi, deteksi dini dan mampu melaksanakan upaya pemecahan masalah kesehatan dan pencegahan/ penanggulangan faktor risiko secara dini, maka dikembangkan kebijakan Desa Siaga Aktif. Sampai tahun 2013, desa padaasih sudah menjadi desa siaga aktif, namun masih pada Strata Pratama, artinya Forum Desa sudah terbentuk tapi belum berjalan optimal. Oleh karenanya, perlu dilakukan revitalisasi kembali terhadap program kesehatan di setiap desa sehingga terkoordinasi dengan forum desa siaga.
d.        Infrastruktur dan Kelompok Ekonomi
Ø  Tanaman Pangan dan Hortikultura
Produksi Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura masyarakat desa padaasih diantaranya :
-            Sawi
-            Padi
-            Jagung
-            Kubis
-            Kacang Tanah
-            Cabai Keriting
-            Cabai Rawit



Ø  Peternakan
Produksi Pertanian Peternakan masyarakat desa padaasih diantaranya :
-            Ayam Kampung
-            Ayam Pedaging
-            Ayam Petelur
-            Domba
-            Kerbau
-            Itik
Ø  Perikanan
Produksi Pertanian Perikanan masyarakat desa padaasih diantaranya :
-            Ikan Nila
-            Ikan Mas
-            Ikan Nilem
-            Ikan Lele
Ø  Perdagangan
Kegiatan perdagangan di Desa padaasih ditopang oleh Sarana Perdagangan berupa :
-            Grosir
-            Produksi Ikan Pidang
-            Warung Kelontongan dll
3        Sumber Daya Pembangunan

No
Uraian Sumber Daya Pembangunan
Jumlah
Satuan
1
Aset prasarana umum

a. Jalan Desa
4.500
KM2

b. Jalan Lingkungan
7.000
KM2

c. Jembatan
100
KM2

d. Irigasi
3
Buah
2
Aset Prasarana pendidikan


a. Gedung Paud
4
Buah

b. Gedung TK
2
Buah

c. Gedung SD
4
Buah

d. Taman Pendidikan Alqur'an
1
Buah

e. SLTP /Sederajat
2
Buah

f. SLTA / Sederajat
2
Buah
3
Aset prasarana kesehatan


a. Posyandu
9
Buah

b. Poskesdes
1
Buah

c. MCK
30
Buah

d. Sarana Air Bersih
5
Buah
4
Aset prasarana ekonomi


a. Glosir
2
Buah

b. Warung Kelontongan
92
Buah
5
Kelompok Usaha Ekonomi Produktif

a. Jumlah kelompok usaha
5
Kelompok
6
Kelompok Tani
4
Kelompok

1.        Daftar Sumber Daya Sosial Budaya
Pembangunan seni dan budaya ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global. Untuk itu, upaya peningkatan jati diri  masyarakat berupa  solidaritas sosial, kekeluargaan, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa perlu terus ditingkatkan untuk mengantisipasi memudarnya budaya berperilaku positif seperti kerja keras, gotong royong, kebersamaan dan kemandirian dengan menggali kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. Hal itu dijunjukkan dengan adanya sarana keagaaman berupa mesjid, madrasah dan pesantren dalm upaya peningkatan jati diri masyarakat setempat.
a.         Sarana Pendidikan agama
Karakteristik masyarakat desa padaasih yang religius menjadikan kualitas kehidupan beragama di desa padaasih terus mengalami peningkatan, antara lain ditandai dengan semakin bertambahnya penyediaan sarana dan fasilitas  keagamaan, sarana pendidikan keagamaan, meningkatnya peringatan hari-hari besar keagamaan dan senantiasa terpeliharanya kerukunan hidup antar umat beragama, intern umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah. Pembangunan keagamaan juga memberikan andil yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain ditandai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam membayar Zakat Infak Sodaqoh (ZIS), hibah/ wakaf dan dana keagamaan lainnya. Walaupun masih belum optimal, namun hal itu cukup mendukung upaya penanggulangan kemiskinan, pembiayaan yatim piatu, bantuan bencana alam dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Untuk meningkatkan pengembangan kehidupan beragama, maka pembangunan kedepan perlu didukung dengan kebijakan untuk meningkatkan kerukunan dan toleransi kehidupan beragama dalam bermasyarakat.
b.        Sarana Olahraga
pembangunan dan pembinaan olahraga disamping optimalisasi olahraga prestasi, dilakukan juga upaya membangun budaya olahraga dalam masyarakat. Untuk meningkatkan pembinaan olahraga dimaksud masih diperlukan dukungan sarana dan prasarana olahraga, baik olahraga masyarakat maupun sarana olahraga terpadu serta pembinaan terhadap atlet potensial. Selanjutnya pembangunan sarana prasarana olahraga di desa padaasih sangat variatif, dengan mengupayakan pengadaan sarana olahraga sesuai dengan hegemoni masyarakat dan sebagai sarana pembangkitan kreativitas masyarakat dalam bidang ekonomi. Namun sampai saat ini desa padaasih belum memiliki sarana olahraga terpadu dengan standar nasional. Adapun sarana olah raga yang ada di desa padaasih adalah :
Ø  Lapangan sepakbola
Ø  GOR Bulu Tangkis
Ø  Tenis Meja
c.         Sarana Kesenian
Pembangunan seni dan budaya selama periode tahun 2009-2014 sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah yaitu adanya perguruan pencak silat di Kp. Malati dan Kp. Beulah Nangka, seni nasyid, kasidah dan rebana

Secara garis besarnya, sumberdaya manusia yang ada di padaasih seperti pada tabel berikut ini :

Sumber Daya Sosial Budaya
No
Uraian Sumber Daya Pembangunan
Jumlah
Satuan
A
Mesjid
21
Buah
B
Pondok Pesantren
5
Buah
C
Madrasah Diniyah
17
Buah
D
Olah Raga


Lapangan Sepakbola
1
Buah

Bulu Tangkis
2
Buah

Tenis Meja
3
Buah

Bola Volly
1
Buah


E
Seni Budaya
Buah

Pencaksilat
2
Buah
 Nasyid
4
Buah
 Rebana
4
Buah


0 on: "PRofil"